Pengurangan

Tulisan ini adalah imajinatif kreatif penulis tehadap bunyi ayat al Qur’an yaitu “liyajziyahumullahu ahsana ma ‘amilu wayazida humminfadlih” (agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik dari yang telah mereka kerjakan), “wama anfaqtumminsyai’in fahuwayukhlifuh” (dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya), dan “innal mussoddiqina wal mussoddiqoti wa aqrodullaha qordon hasanayyudo‘afu lahum” (sesungguhnya Orang-orang yang bersodaqoh baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, akan dilipat gandakan (balasannya) bagi mereka). Jika seseorang bersodaqoh karena mendengarkan ceramah dari Ulama atau Ustadz itu biasa tapi jika seseorang bersodaqoh karena faham akan hakikat sodaqoh tersebut, itu baru luar biasa.

Malam itu, hujan sangat deras sekali mengguyur rumah tinggalku, suara hujannya bagai jatuhan krikil-krikil yang dilempar oleh burung uhud ketika meratakan seluruh kaum kafir yang hendak menantang ke-Esaan Allah. Kuhamparkan sajadah cinta ku untuk bermunajat kepada-Nya, lantunan ayat-ayat sucinya kusebarkan keseluruh penjuru jagat raya dengan bantuan seluruh kekuatan ruh imanku, agar mereka sadar akan hakikat hidup di dunia ini. Setelah beberapa lama, kemudian aku mendengar seorang sahabat memanggilku, ia tinggal satu atap bersamaku ia bernama Al-Farra’, kami kemudian berbicara, tapi tidak dengan bertatap muka ataupun bersuara, seperti manusia pada umumnya, melainkan dengan menggunakan telepati, yaitu komunikasi dengan perantara ruh yang Allah anugerahi kepada hamba-hamba-Nya yang hatinya seperti berlian, selain indah juga berkilau bagi siapa saja yang melihatnya. Selain Al-Farra’ aku masih punya tiga orang lagi yang semuanya tinggal satu atap, masing-masing namanya adalah Imam Malik, Umar bin Abdul aziz dan terakhir Pemilik rumah Syeikh Muhammad Muhammad Es Zuqubdy, beliau adalah seorang Ulama besar yang ingin mewariskan seluruh ilmunya, aku merasa sangat beruntung karena terpilih menjadi salah satu muridnya.

Kami tinggal di udara yaitu antara bumi dan awan sehingga jika hujan turun, maka akan terdengar betapa keras rintikan hujan tersebut. Di dalam perbincanganku bersama Al-Farra’, ia banyak bertanya mengenai aku, ia bertanya mengenai keistimewaanku sehingga aku bisa terpilih menjadi salah satu murid Syeikh Muhammad Muhammad Es Zuqubdy. Hal itu menurutku wajar ia pertanyaan, karena dari ke empat muridnya tersebut hanya aku yang berasal dari daerah timur yaitu Indonesia, sedang yang lain berasal dari timur tengah, tempatnya para Nabi-nabi dan Ulama-ulama besar menghabiskan hidup, yaitu Mesir dan Bagdad. Menaggapi pertanyaan dari Al-Farra’ akupun menjawab, “Bahkan sampai sekarang, aku masih bingung Mengapa aku bisa terpilih, berbeda dengan kalian semua yang memiliki kontribusi besar dalam penyiaran islam”, “tapi pasti Anda memiliki suatu keistimewaan yang sangat hebat, bahkan lebih hebat dari kami, sungguh tidak mungkin ulama sekelas Syeikh Muhammad Muhammad Es Zuqubdy yang sangat teliti dan cerdas salah atau tidak sengaja memilih Anda”, jawab Al-Farra’ dengan nada penuh penasaran.

Seperti biasa setelah menyelesaikan Sholat subuh berjemaah yang di imami oleh sang Syekh, tibalah saatnya untuk mendengarkan kultum. Kebetulan saat itu adalah giliranku untuk menyampaikan kultum. Untuk kesempatan itu aku mengambil tema tentang konsep pengurangan (-) dalam islam dan matematika, aku mengambil tema tersebut karena sesuai dengan bidang keahlianku yaitu matematika. Aku memberikan contoh mengenai konsep Sodaqoh, “jika seseorang bersodaqoh, maka Allah akan akan dilipat gandakan (balasannya) bagi mereka. Jika angka 7 di kurangkan dengan angka 2 maka hasilnya adalah 5, secara sepintas kedua pernyataan tersebut sangatlah kontradiksi, Namun sebenarnya terdapat jawaban, sehingga kedua pernyataan tersebut benilai benar”. Kulihat ekspresi wajah teman-temanku serius dengan kening berkerut, sungguh ini adalah kali pertama aku melihat wajah- wajah tersebut, dan juga aku sempatkan sesekali melihat sang Syeikh, yang terlihat adalah wajah tawadhu’ dengan mata tertutup dan mulut yang tak henti-hentinya menyucikan Asma-Nya. Kemudian aku melanjutkan, “ada dua konsep yang harus kita pegang untuk menjawab pernyataan tersebut, (1). Ada sebuah bilangan yang jika dikurangkan, maka tidak akan ada pengaruh, yaitu tak hingga (~), jika ( (~) – 9 = ~ ), maksudnya adalah ketika seseorang ikhlas bersodaqoh, maka ia akan yakin bahwa semua yang dia miliki adalah titipan, implikasinya adalah sesungguhnya harta yang dia keluarkan itu adalah harta Allah yang nilainya tak hingga (~)”. Kali ini aku sangat senang karena kepala teman-temanku berangguk-angguk, mungkin tanda mereka setuju.

“konsep (2). Adalah, terdapat bilangan jika dikurangkan maka hasilnya akan bertambah, yaitu 7 – (-3) = 10, maksudnya adalah ketika seseorang ikhlas bersodaqoh, maka sesungguhnya harta yang aslinya beku (padat), dengan wujud positifnya (+), dengan bantuan kalam Ilahi mampu mencairkan dirinya sendiri, sehingga berubah wujud menjadi minus (-), Itulah hakikat Sodaqoh yang sebenarnya”, lanjutku. kemudian aku mengakhiri kultum dengan Salam. Wajah teman-temanku, selain mengangguk juga bertambah dengan senyuman, yang membuat aku seperti berada dihadapan surga. Sementara sang Syeikh tetap terlelap dalam kekhusukkannya.

Selesai itu kami berdiri dan berpelukan. Sesungguhnya sesama Muslim itu adalah bersaudara, sungguh indah sekali suasana kekeluargaan yang diajarkan oleh Islam, yang jika kita terapkan maka akan membuat hati menjadi tentram. Kamipun bergegas keluar untuk kembali ke kamar, dalam perjalanan keluar tersebut teman-teman banyak memujiku, aku hanya diam mendengar pujian tersebut sambil menguatkan iman kedalam jasad dan ruh ku agar aku tidak terlelap dalam lantunan-lantunan manis yang didalamnya berisi racun, yang jika berhasil masuk kedalam tubuh akan berakibat merusak seluruh organ-organ yang ada di dalam tubuhku. Tepat dipintu keluar, sang Syeikh berkata “wahai murid-muridku, saya tahu bahwa kalian memendam tanda tanya mengenai pilihanku mengangkat dia sebagai muridku, namun sekarang saya yakin setelah kalian mendengarkan ayat-ayat cinta nya, kalian pasti telah menemukan jawabannya”. Terlihat wajah teman-teman tersenyum kepadaku, kemudian memelukku satu persatu dengan hangat, dan tidak terasa basahan air mata mereka membasahi seluruh pakaian imanku. Sehingga seluruh jasad ruh ku terasa disucikan hingga tak ada lagi kotoran yang menempel.

001/30-05-08/22.58/JG- Budy Sugandi el_khawarismy

One response to “Pengurangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s